Tahun Demi Tahun
Mata tidak bisa terpejam, memikirkan bagaimana seorang wanita bisa bertahan tanpa seseorang di sampingnya selama bertahun-tahun.
Wanita itu disayangi, dicintai, lalu dibuang, tak dianggap, bahkan dilupakan.
Ia tetap hidup, bahkan jika dunia menguburnya hidup-hidup.
Ia menangis, menangis bahagia saat hidupnya penuh cinta dan penuh kasih sayang. Tapi ia juga menangis, saat hidupnya dibalikkan bagai telapak tangan.
Mudah, sangat mudah membalikkan telapak tangan.
Bahkan dalam hitungan detik.
Tahun demi tahun berlalu, ia masih meratapi dirinya di depan kaca. Membuat senyumnya mereka hingga menyentuh matanya, membuat tatapan penuh percaya diri hingga dirinya tak goyah.
Ia melatih hal itu, tahun demi tahun,
Untuk dirinya, dan anak gadisnya tersayang.
Wanita itu disayangi, dicintai, lalu dibuang, tak dianggap, bahkan dilupakan.
Ia tetap hidup, bahkan jika dunia menguburnya hidup-hidup.
Ia menangis, menangis bahagia saat hidupnya penuh cinta dan penuh kasih sayang. Tapi ia juga menangis, saat hidupnya dibalikkan bagai telapak tangan.
Mudah, sangat mudah membalikkan telapak tangan.
Bahkan dalam hitungan detik.
Tahun demi tahun berlalu, ia masih meratapi dirinya di depan kaca. Membuat senyumnya mereka hingga menyentuh matanya, membuat tatapan penuh percaya diri hingga dirinya tak goyah.
Ia melatih hal itu, tahun demi tahun,
Untuk dirinya, dan anak gadisnya tersayang.
Komentar
Posting Komentar