Postingan

Tahun Demi Tahun

Mata tidak bisa terpejam, memikirkan bagaimana seorang wanita bisa bertahan tanpa seseorang di sampingnya selama bertahun-tahun. Wanita itu disayangi, dicintai, lalu dibuang, tak dianggap, bahkan dilupakan. Ia tetap hidup, bahkan jika dunia menguburnya hidup-hidup. Ia menangis, menangis bahagia saat hidupnya penuh cinta dan penuh kasih sayang. Tapi ia juga menangis, saat hidupnya dibalikkan bagai telapak tangan. Mudah, sangat mudah membalikkan telapak tangan. Bahkan dalam hitungan detik. Tahun demi tahun berlalu, ia masih meratapi dirinya di depan kaca. Membuat senyumnya mereka hingga menyentuh matanya, membuat tatapan penuh percaya diri hingga dirinya tak goyah. Ia melatih hal itu, tahun demi tahun, Untuk dirinya, dan anak gadisnya tersayang.

Dia

13 Agustus 2017 02.43 pagi Saya masih terjaga, masih merasa gelisah dengan apa yang terjadi pada hidup saya. Walau sekuat apapun saya menahan pikiran ini untuk berhenti memikirkan hal itu, tapi ingatan saya tentang perkataan seseorang itu masih membenak. Dia mungkin saja sudah tertidur lelap, menikmati kesempatan mencoba mendapatkan mimpi indah walau nanti pagi terbangun dengan kenyataan yang pahit. Bayangkan, orang seperti dirinya bangun dan menyibakkan selimut yang menjaganya tetap hangat sepanjang malam. Duduk di pinggiran kasur lalu terdiam meresap semua kenyataan tentang dirinya yang masih berada di lingkaran hitam tentang kenyataan hidup yang berbeda dengan milik orang lain. Alih-alih mengikhlaskan diri untuk bersujud dan meruntuhkan semua pertahanan dirinya, ia malah mengambil sebuah topeng berdebu di atas meja. Menutupi dirinya yang sebenarnya. Saya terjaga... Bukan karena jatuh cinta hingga semalaman berputar di kasur sendiri memikirkan apa yang sedang orang itu l...

Persatuan dan Perpisahan

Tuhan menciptakan hambanya memang berbeda-beda, namun tetap sama derajatnya tak tinggi dan tak rendah. Tuhan menciptakan fisik hambanya berbeda-berbeda, bukan semata-mata digunakan untuk saling mengejek atau saling mencerca. Tapi untuk dihargai, dihormati dan disayangi.  Manusia memang diciptakan untuk saling berpasangan, tapi apa manusia juga diciptakan untuk merebut seseorang yang sudah berpasangan?   Kenapa di dunia ini harus ada penyatuan jika nantinya diakhiri dengan perceraian? mengapa sebegitu mudahnya mereka yang diberikan kesempatan untuk mendapatkan pasangan dengan mudahnya melupakan, mengacuhkan, dan meninggalkan? Apa Tuhan menciptakan semua manusia untuk berpasangan jika akhirnya seperti itu? Mungkin perpisahan itu ada karena mereka saling tak bisa menghargai, menghormati, dan bahkan sudah tak menyayangi? Apakah mereka pernah memikirkan bagaimana kecewanya seseorang yang menghapus air mata bahagianya saat persatuan itu terjadi?